Mengapa Infrastruktur dan Keamanan Digital Adalah Fondasi Utama Ekosistem AI

(Credit: Telkom Indonesia)

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) generatif dan otomatisasi cerdas telah bergerak melampaui fase euforia awal. Teknologi ini kini berdiri di ambang pintu gelombang industri baru yang akan mendefinisikan ulang cara bisnis dan layanan publik beroperasi. Namun demikian, adopsi teknologi saja tidak cukup untuk menangkap peluang tersebut; dibutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan teknologi, kebutuhan pengguna, dan investasi agar inovasi dapat berkembang menjadi industri yang berkelanjutan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom), Nanang Hendarno, dalam plenary session bertajuk “The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?” pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta. Dalam sesi yang dipandu oleh Irwan Rei (Managing Director of Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia) tersebut, Nanang berdialog bersama Teddy Liu (Executive Director & CEO JINGDONG Coinlink Technology Hong Kong Limited) serta Sara Supaamornkul (Senior Director of International Business Development AtkinsRéalis) untuk membahas teknologi pembentuk industri global masa depan dari perspektif digital, bisnis, dan infrastruktur.

1. Menembus Batas Pilot Project: Dari Eksperimen Menuju Skala Industri

Hingga saat ini, sebagian besar proyek percontohan (pilot projects) AI di berbagai belahan dunia belum secara signifikan mengerek naik garis laba-rugi (bottom line) perusahaan. Dalam paparannya, Nanang mengungkapkan bahwa 95% proyek percontohan AI generatif belum memberikan dampak terhadap laba-rugi perusahaan, dan hanya 25% perusahaan yang mencapai tingkat pengembalian investasi (return on investment / ROI) sesuai harapan.

Di sisi lain, integrasi AI ke dalam alur kerja korporasi masih terbatas, di mana hanya 21% perusahaan yang telah mendesain ulang proses kerjanya untuk memanfaatkan teknologi tersebut.

Agar AI dapat bertransformasi dari sekadar tren menjadi mesin penggerak ekonomi yang berkelanjutan, korporasi memerlukan lima faktor kunci:

  • Biaya yang Terjangkau: Beban komputasi yang efisien (sejak 2022, biaya per kueri AI telah turun sekitar 280 kali, sementara penggunaan AI di Google meningkat hingga tujuh kali lipat dalam satu tahun).

  • Permintaan Pasar (Market Demand): Kebutuhan riel dari konsumen maupun korporasi.

  • Penyesuaian Alur Kerja (Workflow Integration): Integrasi AI secara mulus ke dalam proses operasional harian.

  • Ekosistem Mitra & Pengembang: Kolaborasi erat dalam rantai pasok teknologi.

  • Kepastian Standar & Regulasi: Kerangka hukum yang memberikan kepastian jangka panjang.

2. Lima Kandidat Industri Global Masa Depan

Berdasarkan analisis terhadap potensi pembentukan industri, terdapat lima kandidat utama industri global masa depan yang akan lahir dari gelombang AI:

  1. Konektivitas Terintegrasi: Mencakup jaringan darat, laut, udara, hingga edge AI.

  2. Pusat Data AI Skala Besar: Didukung oleh kapasitas komputasi serta sistem pendingin dan energi yang andal.

  3. Infrastruktur Kepercayaan Digital: Meliputi keamanan siber dan kedaulatan data.

  4. Ekonomi Berbasis Agen AI (Agentic Economy): Lanskap di mana agen-agen otonom bertransaksi dan berinteraksi secara mandiri.

  5. Layanan Otonom Berbasis AI (Autonomous-as-a-Service): Solusi otonom untuk sektor industri dan pemerintahan.

Catatan strategis: Dua bidang pertama merupakan kapabilitas inti (core capabilities) yang saat ini diperkuat oleh Telkom, sementara tiga area lainnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.

3. Peran Strategis Telkom: Membangun Tiga Fondasi Utama Ekosistem AI

Sebagai perusahaan digital telco terdepan di Indonesia, Telkom membangun fondasi ekosistem AI melalui tiga pilar utama: konektivitas terintegrasi, pusat data berskala besar, serta gerbang model AI dan pengembangan aplikasi.

  • Konektivitas Berkecepatan Tinggi: Telkom memperkuat infrastruktur melalui kapasitas satelit sebesar 42,2 Gbps, jaringan serat optik dan kabel laut sepanjang lebih dari 211 ribu kilometer, serta 58 titik kehadiran internasional (international Points of Presence / PoPs).

  • Pusat Data Skala Besar: Melalui NeutraDC, kapasitas pusat data telah mencapai 48,4 MW pada kuartal III 2026 di Indonesia dan Asia Tenggara, dengan aspirasi ekspansi kapasitas jangka panjang hingga 1 Gigawatt (GW).

  • Gerbang Model AI & Aplikasi (Model Hub): Menyediakan akses dan tata kelola model AI global, berdaulat, maupun yang dirancang khusus untuk kebutuhan industri tertentu, sekaligus mendukung lahirnya berbagai use case aplikasi.

Selain itu, keseriusan TelkomGroup dalam mendukung kemandirian teknologi nasional turut diwujudkan lewat peluncuran inisiatif Sovereign Digital Technology pada hari pertama DTIIF 2026, yang mencakup AI Ready Data Center, AI ModelHub, National IoT Platform, dan PaDiSera (mengintegrasikan komputasi, pengembangan AI, konektivitas perangkat, serta perluasan akses pasar bagi UMKM).

4. Kolaborasi Lintas Sektor dan Investasi Jangka Panjang (Patient Capital)

Pengembangan industri AI tentu tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi sinergis dari berbagai pihak:

  • Pemerintah: Menetapkan regulasi, kedaulatan data, dan identitas agen AI.

  • Perusahaan Telekomunikasi & Infrastruktur: Menyediakan konektivitas serta komputasi yang andal.

  • Pengembang & Startup: Menghadirkan solusi sesuai kebutuhan pasar.

  • Talenta & UMKM: Memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kapabilitas daya saing.

Lebih lanjut, Nanang menekankan pentingnya investasi berjangka panjang atau patient capital—yaitu kesiapan menanamkan modal guna membangun fondasi jauh sebelum permintaan pasar terbentuk sepenuhnya, terutama di pasar berkembang seperti Indonesia yang didukung oleh ketersediaan energi dan kepastian regulasi.

“Industri global berikutnya tidak hanya dibangun oleh pihak yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh mereka yang bersedia membangun fondasinya sebelum permintaan pasar terbentuk. Teknologi yang kita bangun hari ini akan menjadi industri global masa depan,” tutup Nanang.

Buku: AI-Powered Leadership

Komentar