![]() |
| (Credit: TVOne) |
Ekonomi Indonesia dinilai jauh lebih besar daripada data Produk Domestik Bruto (PDB) resmi yang tercatat saat ini. Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia sekaligus Utusan Khusus Presiden untuk Bidang Energi dan Lingkungan Hidup, Hashim Djojohadikusumo, membeberkan bahwa terdapat aktivitas ekonomi senilai kurang lebih Rp10.000 triliun yang selama ini tidak tercatat dalam statistik resmi.
Hal tersebut diungkapkan Hashim dalam acara pertemuan besar bersama Kadin Indonesia yang videonya disiarkan melalui kanal YouTube tvOneNews.
1. "Gray Market" dan Ekonomi Bawah Tanah yang Masif
Menurut data dari Bank Dunia yang disampaikan Hashim, sekitar 35% hingga 40% kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat secara resmi dalam PDB nasional yang bernilai sekitar Rp25.000 triliun.
Jika aktivitas informal seperti transaksi tunai sehari-hari (mulai dari jasa tukang cukur, layanan pijat panggilan, hingga transaksi warung-warung kecil) dihitung secara komprehensif, posisi ekonomi Indonesia sebenarnya tidak berada di peringkat ke-16 dunia, melainkan berpotensi naik ke peringkat 11 atau 12 ekonomi terbesar di dunia.
"Dulu zaman saya namanya black market (pasar gelap). Sekarang zaman modern tidak boleh bicara black market karena ada yang tersinggung, jadi istilahnya gray market... Ada jutaan transaksi tunai yang tidak tercatat dan tidak dipungut PPN," ujar Hashim.
2. Rasio Pajak Rendah dan Solusi Digital Taxation
Meskipun memiliki potensi ekonomi yang besar, penerimaan negara (pajak, cukai, dan PNBP) Indonesia saat ini baru berada di angka 12% dari PDB, yang tergolong salah satu yang terendah di dunia. Sebagai perbandingan, Kamboja berada di angka 18%, India 20%, dan Vietnam mencapai 23%.
Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah menyiapkan langkah taktis untuk mengatasi persoalan ini melalui optimalisasi teknologi:
Pajak Digital (Digital Taxation): Sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) dan teknologi informasi segera diimplementasikan. Bank pemerintah, bank swasta, hingga platform fintech diwajibkan untuk membantu memungut dan menyetorkan pajak dari transaksi digital yang selama ini luput.
Rekening Bank Gratis untuk Warga 17 Tahun: Guna memperluas inklusi keuangan (mengingat masih ada sekitar 30% warga dewasa yang belum memiliki rekening bank), pemerintah berencana memfasilitasi pembukaan rekening bank secara gratis bagi warga berusia 17 tahun ke atas agar penyaluran bantuan sosial (Bansos/BLT) bisa langsung tepat sasaran.
3. Utang Negara Masih Aman dan Swasembada Pangan Lebih Cepat
Di tengah berbagai sorotan mengenai kondisi fiskal, Hashim menegaskan bahwa rasio utang pemerintah dan swasta Indonesia berada di kisaran 40%–41% dari PDB. Angka ini dinilai sangat sehat dan termasuk yang paling rendah di dunia jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia (61%), Amerika Serikat (120%), hingga Jepang (250%).
Selain itu, ia juga mengapresiasi pencapaian Indonesia yang berhasil mencapai swasembada pangan lebih cepat dari target yang dicanangkan sebelumnya.
4. Peringatan Tegas Terhadap Praktik "Gorengan" Saham
Di bagian akhir paparannya, Hashim menyampaikan pesan serius dari pemerintah terkait dinamika di pasar modal dan kekhawatiran dari lembaga pemeringkat internasional seperti MSCI.
Saat ini terdapat lebih dari 32,7 juta investor ritel individu di Indonesia yang mayoritas sedang mengalami ketidakpuasan akibat penurunan nilai portofolio saham mereka. Ia secara terbuka memperingatkan para pelaku usaha agar segera menghentikan praktik tidak sehat di bursa saham.
"Mohon dengan sangat, kegiatan 'goreng-gorengan' segera dihentikan karena pemerintah berkehendak untuk bertindak tegas... Jangan sampai rupiah jatuh ke level Rp21.000 atau Rp22.000 yang bisa menjadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia," tegas Hashim.
Pemerintah berharap dengan penegakan hukum yang tegas terhadap praktik manipulasi pasar dan perbaikan sistem fiskal secara menyeluruh, fondasi ekonomi nasional akan semakin kuat dan memberikan kepastian hukum bagi para investor.

Komentar
Posting Komentar