Transformasi TelkomGroup dan Unlocking Value Infrastruktur Digital: Analisis Kinerja InfraNexia Semester I 2026

(Credit: Telkom)

Langkah restrukturisasi dan penataan ulang portofolio bisnis (asset carving/unlocking value) yang dijalankan oleh raksasa telekomunikasi Indonesia, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TelkomGroup), mulai menunjukkan hasil nyata. Sejak pengalihan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk yang efektif berlaku pada 1 Januari 2026 ke anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia), fokus pada pemisahan peran infrastruktur (InfraCo) dan layanan (ServCo) terbukti memberikan efisiensi operasional sekaligus membuka sumber pertumbuhan baru (new growth engine).

Pengalihan ini menandai fase baru bagi InfraNexia dengan skala operasi dan kapabilitas infrastruktur yang jauh lebih besar. Transformasi ini menjadi langkah strategis untuk mendorong pengelolaan aset jaringan secara lebih fokus dan efisien, sekaligus membuka peluang monetisasi serta kolaborasi yang lebih luas di pasar eksternal.

Laporan kinerja keuangan dan operasional InfraNexia pada Semester I 2026 memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana pengelolaan aset jaringan yang terfokus mampu mengakselerasi komersialisasi infrastruktur digital nasional.

Highlighting Numbers: Kinerja Keuangan dan Operasional InfraNexia H1 2026

Dalam enam bulan pertama tahun 2026, InfraNexia mencatatkan serangkaian capaian finansial dan operasional yang sangat solid pada sejumlah indikator utama:

  1. Pendapatan Konsolidasi Rp7,7 Triliun

    Mengawali semester pertama tahun 2026, InfraNexia membukukan total pendapatan sebesar Rp7,7 triliun. Komposisi pendapatan masih didominasi oleh ekosistem TelkomGroup, sejalan dengan perannya dalam mendukung kebutuhan konektivitas grup secara menyeluruh.

  2. Lonjakan Pendapatan Eksternal Sebesar 31% (YoY)

    Pendapatan dari pelanggan di luar ekosistem TelkomGroup pada portofolio bisnis yang dikelola InfraNexia tumbuh 31% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp939 miliar. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku industri—termasuk operator telekomunikasi, Internet Service Provider (ISP), penyedia layanan digital, dan pelanggan korporasi—terhadap infrastruktur InfraNexia, sekaligus memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur yang terbuka (open-access).

  3. Margin EBITDA Mencapai 54,5%

    Dari sisi profitabilitas, InfraNexia membukukan margin EBITDA sebesar 54,5% pada semester I 2026. Capaian ini didukung oleh penerapannya disiplin operasional, optimalisasi biaya, digitalisasi proses bisnis, serta pengelolaan aset yang semakin terintegrasi.

  4. Pertumbuhan Segmen Wholesale Network Sebesar 12,7% (YoY)

    Segmen Wholesale Network—yang mencakup portofolio Metronexia, Wavenexia, dan IP Nexia—mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 12,7% secara tahunan setelah pengelolaannya dialihkan ke InfraNexia. Kenaikan ini ditopang oleh permintaan yang konsisten terhadap layanan core network dan kapasitas jaringan yang terus berkembang. Selain itu, segmen FTTx & Infrastructure Sharing terus memperkuat portofolio bisnis dalam mendukung optimalisasi pemanfaatan infrastructure sharing.

  5. Penguatan Kapasitas Organisasi

    Sejalan dengan perluasan skala bisnis dan kompleksitas operasional, InfraNexia memperkuat kapasitas organisasinya. Jumlah karyawan perusahaan meningkat dari 1.128 menjadi 1.338 orang sepanjang semester I 2026 untuk mendukung pengembangan layanan serta percepatan eksekusi agenda transformasi.

Pandangan Direksi: Membangun Fondasi Infrastruktur Digital

Direktur Utama InfraNexia, Lukman Hakim Abd. Rauf, menegaskan bahwa pencapaian ini membuktikan transformasi yang dijalankan mulai memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan dan efisiensi perusahaan.

“Pertumbuhan pendapatan eksternal dan kinerja positif InfraNexia menunjukkan bahwa proses bisnis yang kami jalankan mulai memperkuat daya saing InfraNexia. Selain memperbesar skala bisnis, fokus kami juga terus memastikan aset dan kapabilitas yang dimiliki dapat dikelola secara lebih produktif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan industri,” ungkap Lukman.

Lukman menambahkan bahwa semester pertama tahun 2026 menjadi periode penting bagi InfraNexia dalam membangun fondasi sebagai perusahaan infrastruktur digital yang kuat dan kompetitif. Perusahaan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan melalui inovasi, modernisasi jaringan, serta perluasan kolaborasi dengan seluruh pelaku industri guna mengoptimalkan aset infrastruktur bagi seluruh pemangku kepentingan.

Tiga Pembelajaran Strategis dari Transformasi InfraNexia

Melihat perkembangan ini dari perspektif strategi bisnis dan teknologi, terdapat tiga poin krusial yang dapat dipetik oleh pelaku industri:

1. Pergeseran Paradigma Menuju Infrastructure Sharing

Di tengah tingginya biaya investasi (Capital Expenditure/CapEx) penggelaran jaringan serat optik, model penyediaan infrastruktur yang efisien melalui infrastructure sharing dan FTTx sharing menjadi solusi paling rasional. Langkah InfraNexia yang membuka ruang kolaborasi bagi pelaku industri membantu menekan efisiensi belanja modal nasional, menghindari duplikasi jaringan, dan mempercepat pemerataan akses konektivitas digital.

2. Monetisasi Aset Melalui Spesialisasi (Structural Separation)

Memfokuskan InfraNexia secara khusus pada pengelolaan dan komersialisasi aset fiber connectivity membuktikan bahwa pemisahan struktur operasional mampu meningkatkan produktivitas aset. Pengelolaan jaringan menjadi lebih terukur dan responsif terhadap dinamika pasar B2B (business-to-business), sekaligus membuktikan bahwa strategi carve-out menciptakan nilai tambah baru bagi induk perusahaan.

3. Sinergi Strategis Dalam Ekosistem Danantara Indonesia

Sebagai bagian dari TelkomGroup, InfraNexia turut mendukung komitmen Danantara Indonesia dalam memperkuat fondasi ekonomi digital nasional. Transformasi ini sejalan dengan upaya mendorong pengelolaan aset negara agar lebih produktif, berdaya saing, serta mampu menciptakan nilai dan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Catatan Penutup

Semester I 2026 telah membuktikan bahwa eksekusi transformasi yang konsisten dan disiplin operasional mampu membawa dampak nyata pada kinerja bisnis InfraNexia. Dengan sinergi bersama Danantara Indonesia dan TelkomGroup, penataan infrastruktur digital ini diproyeksikan akan terus memperkuat ekosistem digital nasional.

Bagi para praktisi bisnis dan teknologi, pelajaran terpenting dari dinamika ini adalah bahwa kunci keberhasilan di era digital bukan sekadar kepemilikan aset yang masif, melainkan bagaimana aset tersebut dikelola secara efisien, produktif, dan terbuka untuk kolaborasi lintas industri.

Buku: AI-Powered Strategic Management

Komentar