![]() |
| (Credit: Autoblog) |
Loncatan teknologi otomotif dalam beberapa tahun terakhir terasa sangat masif. Jika kita menilik kembali ke 140 tahun lalu saat mobil pertama di dunia mulai dijual, keberadaan layanan ride-hailing sepenuhnya otonom yang kini beroperasi di berbagai kota di Amerika Serikat—seperti Waymo (Alphabet), Zoox (Amazon), dan Tesla—adalah bukti nyata dari kemajuan luar biasa peradaban manusia.
Namun, secanggih apa pun teknologi self-driving saat ini, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak ruang untuk perbaikan.
Kelemahan di Balik Kecanggihan
Meskipun mobil otonom mampu memproses data ribuan titik per detik, mereka masih sering kesulitan menghadapi variabel dunia nyata yang tidak terduga. Masalah cuaca buruk (hujan deras, salju, kabut), perilaku pejalan kaki yang tidak terduga, hingga kegagalan infrastruktur seperti lampu lalu lintas yang mati atau adanya perbaikan jalan, tetap menjadi tantangan besar.
Ironisnya, terkadang bukan badai besar yang menghentikan langkah robotaxi ini, melainkan hal sepele: pintu yang dibiarkan terbuka oleh penumpang.
Masalah Teknis pada Jaguar I-Pace
Armada Waymo saat ini didominasi oleh kendaraan Jaguar I-Pace. Masalahnya, model ini tidak memiliki fitur mekanis untuk menutup pintu secara otomatis dari jarak jauh. Begitu penumpang turun dan membiarkan pintu terbuka, sensor keamanan kendaraan akan mengunci sistem penggerak. Mobil tersebut akan terdiam di tempat (inoperable), menjadi ganjalan lalu lintas, dan kehilangan potensi pendapatan karena tidak bisa mengambil penumpang berikutnya.
Solusi Non-Teknis: Melibatkan Kurir DoorDash
Alih-alih mencari solusi perangkat lunak yang rumit, Waymo (menurut laporan CNBC) justru mengambil pendekatan yang sangat manusiawi dan praktis. Mereka menjalankan program percontohan di Atlanta dengan membayar pekerja gig economy dari platform seperti DoorDash dan Honk.
Mekanismenya cukup unik:
Ketika sebuah Waymo terdeteksi "terdampar" dengan pintu terbuka, sistem akan mengirim notifikasi kepada pengemudi DoorDash terdekat.
Pengemudi tersebut memiliki opsi untuk menerima tugas singkat tersebut.
Mereka cukup datang ke lokasi, menutup pintu mobil, dan kendaraan otonom tersebut bisa langsung melanjutkan operasionalnya.
Bayaran yang Menggiurkan untuk Tugas Sederhana
Fenomena ini mulai ramai dibicarakan setelah para pekerja gig membagikan pengalaman mereka di media sosial. Di Reddit, seorang pengemudi DoorDash di Atlanta mengunggah tangkapan layar yang menunjukkan tawaran sebesar $11,25 (sekitar Rp177.000) hanya untuk menutup pintu Waymo yang berjarak sekitar 1,1 km dari lokasinya. Di wilayah lain, bayarannya dikabarkan bisa bervariasi tergantung tingkat urgensi dan lokasi.
Kesimpulan: AI Masih Butuh Manusia
Ketergantungan Waymo pada pengemudi DoorDash membuktikan bahwa di balik layar kecerdasan buatan yang paling canggih sekalipun, "sentuhan manusia" tetap diperlukan untuk mengatasi hambatan fisik yang sederhana.
Meskipun model masa depan (seperti kolaborasi dengan Zeekr) diprediksi akan memiliki pintu geser otomatis, saat ini kolaborasi antara robot canggih dan pekerja manusia menjadi solusi paling efisien untuk menjaga roda ekonomi otonom tetap berputar.

Comments
Post a Comment