
Dalam pertemuan APEC Business Advisory Council (ABAC) di Jakarta baru-baru ini, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan visi besar untuk mengintegrasikan sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) ke seluruh negara anggota APEC.
Langkah ini bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan strategi geopolitik ekonomi yang sangat krusial bagi masa depan Indonesia.
1. APEC sebagai Jantung Ekspor Indonesia
Menko Airlangga Hartarto menekankan alasan fundamental di balik langkah ini: 70% dari total ekspor Indonesia ditujukan ke negara-negara anggota APEC. Fakta ini menjadikan kerja sama regional di kawasan Asia-Pasifik sebagai urat nadi pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan memperluas akseptasi QRIS, hambatan transaksi (friction) antara eksportir Indonesia dengan pembeli di kawasan APEC dapat diminimalisir. Ini adalah upaya nyata untuk memastikan bahwa arus barang dan jasa dari Indonesia tidak terhambat oleh kompleksitas konversi mata uang manual.
2. Ekspansi Global: Dari Asia Timur hingga Timur Tengah
Indonesia tidak memulai dari nol. Keberhasilan implementasi QRIS di beberapa negara menjadi fondasi kuat. Airlangga Hartarto menyoroti bahwa sistem ini telah mulai diadopsi dan dikerjasamakan dengan negara-negara seperti:
Korea Selatan dan Jepang: Sebagai mitra dagang utama dan investor terbesar di sektor manufaktur.
Timur Tengah: Kawasan yang memiliki ikatan historis dan religius kuat dengan Indonesia, serta potensi pasar halal yang masif.
Perluasan ke negara APEC lainnya akan menjadi tonggak sejarah baru dalam diplomasi ekonomi digital Indonesia.
3. Perspektif Sejarah: Modernisasi Semangat Perdagangan Madani
Sebagai pengamat sejarah Islam, saya melihat langkah ini sangat relevan dengan prinsip Tijarah (perdagangan) yang adil. Dalam sejarah emas peradaban Islam, stabilitas ekonomi dicapai melalui kemudahan akses pasar dan alat tukar yang terpercaya.
Kebijakan yang diusung Menko Airlangga ini mencerminkan semangat tersebut dalam konteks modern:
Keadilan Ekonomi: Memberi kesempatan bagi UMKM Indonesia untuk bertransaksi langsung dengan turis atau pembeli asing tanpa biaya admin yang mencekik.
Efisiensi Transaksi: Sesuai dengan prinsip menghindari mudharat (kerugian) dalam ekonomi, QRIS menawarkan kecepatan dan keamanan yang jauh lebih baik dibanding uang tunai.
4. Mendukung Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif
Tujuan utama dari ekspansi QRIS di APEC adalah mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Saat sistem pembayaran digital ini tersebar luas, maka akses pasar tidak lagi hanya milik perusahaan besar. Seorang pengrajin di desa pelosok Indonesia kini berpotensi menerima pembayaran langsung dari pembeli di San Francisco atau Shanghai dengan satu pemindaian kode QR.
Kesimpulan
Langkah Indonesia ini membuktikan bahwa kita bukan lagi sekadar pasar bagi teknologi asing, melainkan kreator standar yang mampu mendikte arah ekonomi regional. Dengan dukungan 70% pasar ekspor di APEC, QRIS adalah senjata utama Indonesia untuk memenangkan persaingan global di abad digital.
Comments
Post a Comment