Kebangkitan New Balance: Analisis Strategis di Balik Lonjakan Penjualan 19% dan Pergeseran Kekuatan di Industri Footwear Global
![]() |
| Image credit: CNBC |
Dalam industri yang kompetitif seperti perlengkapan olahraga, konsistensi sering kali menjadi pembeda antara merek yang bertahan dan merek yang memimpin. Laporan keuangan tahun 2025 yang dibagikan secara eksklusif oleh New Balance kepada CNBC menunjukkan sebuah tren yang tak terbantahkan: raksasa asal Boston yang berusia 120 tahun ini tengah berada di puncak performanya.
Dengan pertumbuhan penjualan sebesar 19% menjadi USD 9,2 miliar tahun lalu, New Balance tidak hanya melampaui pasar alas kaki global, tetapi juga secara agresif mengambil pangsa pasar dari kompetitor utama yang tengah goyah, termasuk Nike.
Pertumbuhan Eksponensial: Melampaui "Empty Calories"
Sejak tahun 2020, New Balance telah mencatatkan pertumbuhan penjualan yang mengejutkan sebesar 180%. Namun, bagi CEO Joe Preston, pencapaian ini bukan sekadar mengejar angka. Preston menekankan pentingnya kualitas pertumbuhan dibandingkan sekadar volume.
"Kami tidak menginginkan 'empty calories' (pertumbuhan tanpa substansi). Kami ingin memastikan bahwa kami memenuhi janji untuk menjadi merek premium," ujar Preston. Strategi ini terbukti efektif; dalam lima tahun terakhir, New Balance berhasil meningkatkan harga jual rata-rata sebesar 30%, di saat kompetitor lain justru terpaksa melakukan diskon besar-besaran untuk menggerakkan inventaris.
Celah Strategis: Memanfaatkan Kelemahan Kompetitor
Keberhasilan New Balance tidak lepas dari dinamika internal para pesaingnya. Saat Nike mengalihkan fokusnya secara radikal ke model Direct-to-Consumer (DTC) dan memutus hubungan dengan banyak mitra grosir (wholesale), tercipta ruang kosong di rak-rak ritel strategis.
New Balance, bersama merek lain seperti On dan Brooks, bergerak cepat mengisi kekosongan tersebut. Sementara Nike terjebak dalam kompleksitas logistik DTC dan mengalami perlambatan inovasi produk, New Balance tetap menjaga keseimbangan antara kanal penjualan langsung dan kemitraan ritel.
Agilitas Manajerial di Masa Krisis
Salah satu poin menarik dari kepemimpinan Preston adalah bagaimana New Balance merespons pandemi. Berbeda dengan pandangan bahwa kerja jarak jauh menghambat inovasi, New Balance justru memperkuat kolaborasi tim.
"Kami bertemu setiap Selasa pagi pukul 07.30, dan pertemuan mingguan itu masih kami lakukan hingga hari ini," ungkap Preston. Komitmen ini memungkinkan perusahaan untuk melancarkan "ofensif global" yang membuat mereka keluar dari masa pandemi dengan posisi yang lebih kuat dibandingkan perusahaan mana pun di industrinya.
Pilar Keberhasilan: Identitas, Atlet, dan Ekspansi Ritel
Beberapa faktor kunci yang memperkuat posisi New Balance di tahun 2025 meliputi:
Relevansi Budaya: New Balance berhasil memanfaatkan momentum tren sepatu "dad shoe" era 90-an yang digandrungi generasi muda. Hal ini memungkinkan merek ini menjangkau konsumen baru yang melihat sepatu bukan sekadar alat olahraga, melainkan pernyataan gaya hidup (fashion statement).
Portofolio Atlet Elit: Kemitraan dengan bintang dunia seperti Shohei Ohtani (MLB), Coco Gauff (Tenis), dan Josh Allen (NFL) telah memperkuat kredibilitas mereka di kategori performa tinggi.
Ekspansi Fisik yang Agresif: Di tahun 2025 saja, New Balance membuka 80 gerai baru secara global sebagai bagian dari strategi untuk tetap berada di depan mata konsumen (staying in front of the consumer).
Pendekatan DTC yang Humanis: Berbeda dengan Nike yang menetapkan target internal kaku untuk penjualan langsung, New Balance memilih untuk membiarkan konsumen menentukan cara mereka berbelanja. Fokusnya adalah memberikan pengalaman terbaik, bukan memaksa transisi digital.
Proyeksi Mendatang: Menuju Ambisi USD 10 Miliar
Dengan momentum saat ini, New Balance memproyeksikan pendapatan tahunan akan menembus angka psikologis USD 10 miliar (sekitar Rp155 triliun) pada akhir tahun ini. Meskipun perusahaan tetap tertutup mengenai rincian profitabilitas akibat biaya ekspansi toko yang tinggi, posisi merek mereka sebagai penyedia produk premium memberikan margin keamanan yang cukup kuat.
Kesimpulan bagi Pelaku Bisnis: Kasus New Balance membuktikan bahwa dalam era disrupsi digital, strategi omnichannel yang fleksibel, inovasi produk yang konsisten, dan pemeliharaan identitas merek premium jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar volume penjualan melalui diskon atau perubahan model bisnis yang prematur. New Balance kini bukan lagi sekadar alternatif; mereka adalah standar baru dalam industri footwear global.

Comments
Post a Comment