Saham Trip.com Anjlok 22%: Investigasi Antimonopoli Beijing Guncang Raksasa Travel Asia

Saham Trip.com Group Ltd, penyedia layanan perjalanan daring terbesar di Asia, mengalami terjun bebas dalam perdagangan di bursa Hong Kong pada Kamis (15/1). Penurunan tajam ini dipicu oleh langkah pemerintah Tiongkok yang secara resmi membuka penyelidikan antimonopoli terhadap raksasa teknologi tersebut.

Penurunan Terburuk Sejak IPO

Hingga tengah hari waktu setempat (11:59 AM CTT), saham Trip.com terpantau anjlok ke level HKD 457,60, atau turun sekitar 19,65%. Sebelumnya, saham ini sempat menyentuh titik terendah dengan penurunan hampir 22%, menjadikannya saham dengan performa terburuk di indeks Hang Seng hari ini.

Kondisi ini menyusul penutupan perdagangan di bursa New York pada hari Rabu, di mana saham berkode TCOM tersebut ditutup anjlok 17%. Ini menandai hari perdagangan terburuk bagi Trip.com sejak pertama kali melantai di bursa Hong Kong pada April 2021.

Detail Penyelidikan SAMR

Regulator pasar Tiongkok, State Administration for Market Regulation (SAMR), menyatakan pada Rabu malam bahwa mereka sedang menyelidiki Trip.com atas dugaan "penyalahgunaan posisi dominan di pasar dan praktik monopoli."

Trip.com saat ini merupakan pemain dominan yang memiliki pengaruh global yang luas. Selain operasional utamanya di Tiongkok, perusahaan ini memegang saham di:

  • Skyscanner (agregator penerbangan asal Inggris).

  • MakeMyTrip (perusahaan perjalanan raksasa di India).

  • Berbagai penyedia layanan perjalanan domestik di Tiongkok.

Merespons hal ini, manajemen Trip.com menyatakan akan bersikap kooperatif. "Kami akan aktif bekerja sama dengan pihak berwenang dalam investigasi ini. Saat ini, operasional bisnis perusahaan tetap berjalan normal seperti biasa," tulis pernyataan resmi perusahaan.

Dibayangi Kasus Alibaba

Investigasi terhadap Trip.com membangkitkan ingatan pasar pada kasus serupa yang menimpa Alibaba pada tahun 2021. Kala itu, SAMR menjatuhkan denda rekor sebesar 18,2 miliar yuan (sekitar US$2,8 miliar) setelah raksasa e-commerce tersebut terbukti melakukan praktik monopoli. Investor kini mengantisipasi apakah Trip.com akan menghadapi sanksi finansial dengan skala yang sama.

Momentum yang Canggung: Menjelang Imlek 2026

Penyelidikan ini datang di saat industri pariwisata Tiongkok sedang berada di ambang lonjakan besar. Berdasarkan data dari China Trading Desk, wisatawan Tiongkok diprediksi akan melakukan sekitar 165 juta hingga 175 juta perjalanan lintas batas pada tahun 2026, naik dari 155 juta pada tahun sebelumnya.

Terlebih lagi, periode libur Tahun Baru Imlek akan segera tiba (5 Februari – 23 Februari). Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 lalu, terdapat 501 juta orang melakukan perjalanan domestik selama periode Imlek dengan total pengeluaran mencapai 6,77 miliar yuan.

Kesimpulan

Langkah tegas Beijing ini menciptakan ketidakpastian bagi masa depan Trip.com di tengah periode tersibuk sepanjang tahun. Meski permintaan perjalanan sedang tinggi-tingginya, tekanan regulasi ini memaksa investor untuk menghitung ulang risiko dominasi pasar yang dimiliki oleh Trip.com di ekosistem pariwisata global.

Buku: AI-Powered Strategic Management

Comments