![]() |
| Image Source: TechCrunch |
Hanya dalam waktu empat tahun setelah mengubah identitas perusahaannya secara total, Mark Zuckerberg akhirnya menarik rem darurat. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa Meta telah melakukan PHK terhadap sekitar 1.500 karyawan di divisi Reality Labs (sekitar 10% dari total staf unit tersebut) dan menutup sejumlah studio game VR internal.
Eksodus dari Dunia Virtual ke AI
Langkah ini bukanlah sekadar efisiensi, melainkan pembalikan strategi secara masif. Jika pada 2021 Meta menjanjikan era baru teknologi yang dipimpin oleh perangkat VR, kini fokus tersebut telah bergeser sepenuhnya ke Artificial Intelligence (AI).
Beberapa "korban" dari pergeseran ini meliputi:
Studio Game Internal: Armature Studio (Resident Evil 4 VR), Twisted Pixel (Marvel’s Deadpool VR), dan Sanzaru (Asgard’s Wrath) terkena dampak langsung.
Aplikasi Populer: Aplikasi kebugaran VR Supernatural, yang dibeli Meta seharga $400 juta pada 2023, kini masuk ke "mode pemeliharaan" dan tidak akan memproduksi konten baru.
Produktivitas Kerja: Layanan Workrooms, yang awalnya digadang-gadang sebagai masa depan kantor virtual, resmi dihentikan.
Mengapa Meta Sangat Terobsesi dengan Metaverse?
Keinginan Zuckerberg membangun Metaverse bukan tanpa alasan. Ada dua motif utama di baliknya:
Melarikan Diri dari Kontroversi: Rebranding menjadi Meta pada 2021 membantu perusahaan menjauhkan diri dari citra negatif Facebook—mulai dari skandal Cambridge Analytica, bocoran dokumen Frances Haugen tentang dampak negatif terhadap remaja, hingga tuduhan monopoli.
Perang Melawan Apple & Google: Zuckerberg lelah hidup di bawah aturan App Store dan Google Play. Ia ingin memiliki platform sendiri agar tidak perlu membayar biaya tinggi atau tunduk pada aturan privasi pihak lain yang menghambat pendapatan iklan Meta.
Kegagalan Model "Build in the Open"
Meta mencoba menerapkan strategi "membangun secara terbuka"—merilis produk awal ke konsumen dan memperbaikinya berdasarkan masukan. Namun, strategi ini gagal karena dua hal:
Produk yang Buruk: Versi awal Metaverse dianggap "tidak berjiwa". Avatar yang tidak memiliki kaki dan swafoto Zuckerberg di dunia virtual yang terlihat kuno justru menjadi bahan cemoohan (meme) di internet.
Permintaan Pasar yang Rendah: Meskipun Meta menguasai 77% pangsa pasar VR, minat konsumen terus merosot. Pengiriman headset VR global turun 12% YoY pada tahun 2024, menandai penurunan selama tiga tahun berturut-turut.
Lubang Hitam Finansial: $73 Miliar yang Menguap
Secara finansial, pengeluaran untuk Reality Labs sangatlah fantastis. Meta telah menggelontorkan dana sekitar $73 miliar ke divisi tersebut. Untuk memberi konteks betapa besarnya angka ini: Anda harus menghabiskan $1 juta setiap hari selama 200 tahun untuk menyamai jumlah uang yang dibakar Meta demi Metaverse.
Awalnya, analis dari McKinsey dan Citi memprediksi Metaverse akan menjadi platform bernilai triliunan dolar pada 2030. Namun, realitas berkata lain. Investor yang mulai khawatir dengan kerugian yang tidak kunjung berhenti akhirnya memaksa Meta untuk bersikap lebih realistis.
Kesimpulan: Realitas Baru Meta
Penutupan studio-studio besar dan pemotongan anggaran hingga 30% adalah pengakuan secara tidak langsung bahwa visi "satu miliar orang di Metaverse" masih sangat jauh dari kenyataan. Meta kini memilih untuk bertaruh pada teknologi yang lebih relevan saat ini, yaitu AI, sambil tetap mempertahankan ekosistem VR yang tersisa dalam skala yang jauh lebih kecil dan efisien.
Era Metaverse sebagai pusat identitas Meta mungkin sudah berakhir, digantikan oleh pencarian baru di dunia kecerdasan buatan.

Comments
Post a Comment