Mengapa CEO Netflix Tidak Membaca Buku Manajemen, Tapi Justru Terobsesi dengan Novel Tahun 1902

Di meja kerja atau tas kantor Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, Anda tidak akan menemukan tumpukan buku manajemen populer atau panduan strategi bisnis terbaru. Sarandos mengakui bahwa ia hampir tidak pernah membaca buku manajemen. Sebaliknya, ia beralih ke karya fiksi untuk mempelajari esensi kepemimpinan.

Dalam wawancara untuk seri terbaru CNBC, "Leaders Playbook", pria berusia 61 tahun ini mengungkapkan bahwa buku kepemimpinan paling berpengaruh baginya adalah sebuah novella klasik karya Joseph Conrad berjudul Typhoon (1902).

Belajar Menghadapi Badai Ketidakpastian

Typhoon menceritakan tentang seorang kapten kapal uap dan krunya yang berjuang menembus badai dahsyat di laut. Bagi Sarandos, ini adalah metafora paling kuat tentang kepemimpinan yang pernah ia baca.

"Saya membacanya berulang-ulang karena setiap kali membacanya, saya mendapatkan sesuatu yang berbeda," kata Sarandos.

Menariknya, persepsi Sarandos terhadap buku ini berubah seiring kedewasaannya:

  • 20 Tahun Lalu: Ia menganggap sang kapten adalah sosok yang sembrono dan membahayakan nyawa orang lain.

  • Sekarang: Ia melihatnya sebagai pelajaran tentang memimpin di tengah konflik dan ketidakpastian. "Ujian kepemimpinan yang sebenarnya adalah: bagaimana Anda mengelola situasi ketika keputusan yang Anda buat tidak berjalan sesuai rencana?"

Pelajaran dari Reed Hastings: Pilih Orang Terbaik, Lalu "Minggir"

Filosofi kepemimpinan Sarandos juga dibentuk oleh pendiri Netflix, Reed Hastings. Pelajaran terbesar yang ia petik adalah: rekrut orang-orang terbaik, beri mereka alat yang dibutuhkan, dan jangan menghalangi mereka (get out of their way).

Prinsip ini teruji dalam salah satu pertaruhan terbesar dalam sejarah industri streaming. Sekitar sepuluh tahun masa kerjanya, Sarandos mengambil langkah berisiko tinggi dengan menggelontorkan $100 juta untuk memproduksi serial orisinal pertama Netflix, House of Cards, langsung untuk dua musim.

Luar biasanya, ia melakukan ini tanpa meminta izin kepada Hastings. Ketika Hastings bertanya mengapa ia berani melakukan itu, Sarandos menjawab dengan lugas:

"Jika acara ini gagal, kita hanya membayar terlalu mahal untuk sebuah tayangan—sesuatu yang sering kita lakukan. Tapi jika berhasil, kita bisa mengubah total bisnis yang kita jalankan."

Pertaruhan tersebut terbukti berhasil dan mengubah Netflix dari sekadar penyedia konten menjadi studio raksasa dunia.

Tren di Kalangan Miliarder: Fiksi sebagai Guru

Sarandos tidak sendirian. Banyak pemimpin dunia yang menemukan inspirasi dari fiksi:

Mengapa Fiksi Sangat Ampuh?

Menurut Brooke Vuckovic, profesor kepemimpinan di Northwestern University, fiksi adalah alat pengembangan diri yang sering diremehkan. Dengan menganalisis motivasi karakter dan menarik paralel antara konflik di buku dengan masalah di kantor, seorang pemimpin bisa mengasah empati dan kemampuan pemecahan masalah.

"Pemimpin terbaik selalu mencari cara untuk mengembangkan diri, dan fiksi adalah cara yang sangat kuat, berbiaya rendah, dan menyenangkan untuk melakukannya—jika dibaca dengan cara yang benar," jelas Vuckovic.

Pesan Utama: Kepemimpinan bukan tentang menghafal teori dari buku teks, melainkan tentang karakter dalam menghadapi badai, keberanian mengambil risiko, dan kepercayaan penuh pada tim Anda.

Buku: AI-Powered Strategic Management

Comments