Memasuki awal tahun 2026, peta bisnis PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terlihat jauh lebih ramping dan terfokus. Tepat dua tahun sejak ByteDance resmi mengambil alih kendali mayoritas Tokopedia pada awal 2024, strategi "diet ketat" GOTO mulai membuahkan hasil yang nyata pada garis laba-rugi perusahaan.
Jika sebelumnya GOTO harus berjibaku dengan "bakar uang" di sektor e-commerce yang sangat kompetitif, kini perusahaan tampak lebih stabil dengan mengandalkan ekosistem layanan mandiri yang lebih sehat secara finansial.
1. Transformasi Menuju Profitabilitas
Keputusan strategis melepas Tokopedia terbukti menjadi titik balik fundamental. Dengan menyerahkan beban operasional e-commerce kepada TikTok, GOTO berhasil:
Mengeliminasi Kerugian Konsolidasi: GOTO tidak lagi menanggung kerugian besar dari sektor e-commerce yang selama bertahun-tahun menekan EBITDA perusahaan.
Mencetak Laba Operasional: Hingga kuartal ketiga 2025, GOTO secara mengejutkan berhasil membukukan laba sebelum pajak yang disesuaikan (Adjusted PBT) positif sebesar Rp62 miliar, sebuah pencapaian historis bagi perusahaan.
Pendapatan Rutin (Service Fee): Sebagai pemegang saham minoritas di Tokopedia, GOTO kini menikmati e-commerce service fee yang mengalir sebagai pendapatan murni tanpa harus menanggung biaya promosi yang masif.
2. Fintech dan On-Demand Services Jadi Mesin Utama
Tanpa Tokopedia, fokus GOTO kini bergeser ke dua pilar utama: Fintech (GoTo Financial) dan On-Demand Services (Gojek).
Segmen Fintech: Melalui GoPay dan layanan pinjaman (lending), segmen ini diproyeksikan menyumbang hingga 60% dari pertumbuhan EBITDA grup di tahun 2026.
Loyalitas Pengguna: Pendapatan bersih dari layanan on-demand tumbuh stabil sekitar 18% (YoY), menunjukkan bahwa pengguna ekosistem Gojek kini lebih mementingkan utilitas dibandingkan subsidi atau diskon.
3. Respons Pasar dan Isu Strategis 2026
Di awal Januari 2026, gairah pasar terhadap saham GOTO kembali meningkat. Beberapa faktor pemicunya antara lain:
Akumulasi Asing: Nama-nama besar seperti BlackRock tercatat menambah kepemilikan saham mereka, memberikan sinyal kepercayaan pada fundamental baru GOTO yang lebih ramping.
Spekulasi Merger: Isu merger dengan raksasa regional seperti Grab kembali berembus di pasar, yang oleh analis dipandang sebagai potensi konsolidasi terakhir untuk menciptakan efisiensi mutlak di industri teknologi Asia Tenggara.
Estimasi Laba Bersih: Para analis meyakini tahun buku 2026 akan menjadi tahun pertama GOTO mampu mencetak laba bersih secara penuh (FY26), dengan target harga saham yang mulai merangkak naik menuju level fundamental baru.
Kesimpulan
Dua tahun pasca transisi dengan ByteDance, GOTO telah bertransformasi dari perusahaan yang "tumbuh dengan biaya berapa pun" menjadi entitas teknologi yang memprioritaskan kualitas laba. Meski tantangan makroekonomi seperti inflasi dan daya beli tetap membayangi, jalur menuju profitabilitas penuh kini terlihat jauh lebih lapang dibandingkan masa lalu.

Comments
Post a Comment