![]() |
| Image Credit: IDXChannel |
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan ekstrem yang jarang terjadi. Setelah ambruk 8% pada Rabu (28/1), IHSG kembali dibuka terjun bebas pada Kamis pagi (29/1). Dalam waktu singkat, indeks merosot hingga 8%, menyentuh level 7.654,66, yang memicu Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk kembali mengaktifkan protokol trading halt demi menstabilkan pasar.
Mengapa Pasar Saham Kita Drop Parah?
Penyebab utama kepanikan massal ini bukan datang dari fundamental ekonomi domestik yang melemah, melainkan sentimen negatif dari lembaga indeks global, MSCI (Morgan Stanley Capital International).
Pembekuan Indeks oleh MSCI: Pada 27 Januari, MSCI mengumumkan pembekuan sementara terhadap perubahan indeks untuk sekuritas Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran investor global mengenai transparansi struktur kepemilikan saham (free float) dan adanya indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
Risiko Downgrade ke Frontier Market: Pasar merespons negatif ancaman MSCI yang menyatakan bahwa jika tidak ada perbaikan transparansi hingga Mei 2026, status Indonesia bisa diturunkan dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Aksi Jual Asing Masif: Investor asing tercatat melakukan net sell (jual bersih) dalam jumlah jumbo, mencapai triliunan rupiah dalam hitungan jam. Saham-saham blue chip seperti BBCA, BBRI, TLKM, dan saham grup besar lainnya menjadi pemberat utama indeks.
Sentimen Eksternal: Selain isu MSCI, ketegangan perdagangan global akibat kebijakan tarif Amerika Serikat serta ancaman government shutdown di AS turut menambah beban volatilitas pasar global.
Kondisi Terkini di Lantai Bursa
Pada perdagangan pagi ini, hampir seluruh sektor berada di zona merah. Lebih dari 650 saham tercatat mengalami penurunan harga, sementara hanya sedikit emiten yang mampu bertahan di zona hijau. Efek dominonya terasa sangat cepat, memicu psikologi pasar yang cenderung protektif dengan melakukan aksi jual demi mengamankan aset.
Apa yang Harus Dilakukan Investor?
Para analis menyarankan investor untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam panic selling.
"Fundamental makroekonomi Indonesia sebenarnya masih solid. Koreksi ini lebih dipicu oleh masalah struktural transparansi data yang disorot MSCI, bukan karena kinerja emiten yang memburuk," ujar salah satu analis pasar modal.
Beberapa emiten besar mulai melakukan aksi beli kembali (buyback) saham untuk menjaga stabilitas harga, seperti yang dilakukan oleh PT Darma Henwa Tbk (DEWA) baru-baru ini.

Comments
Post a Comment