![]() |
| Jack Zhang (Image Credit: CNBC) |
Bagi Jack Zhang, salah satu pendiri dan CEO Airwallex, istilah "burnout" atau kelelahan mental akibat kerja tidak ada dalam kamusnya. "Jujur, saya tidak pernah mengerti terminologi itu. Saya sudah bekerja 100 jam seminggu sejak usia 16 tahun selama lebih dari 20 tahun," ungkapnya kepada CNBC Make It.
Bagi Zhang, kerja keras bukan sekadar pilihan karier, melainkan strategi untuk bertahan hidup.
Bertahan Hidup di Negeri Orang
Kisah Zhang dimulai pada usia 15 tahun ketika ia pindah sendirian dari Qingdao, China, ke Melbourne, Australia. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang minim, ia tinggal bersama keluarga asuh lokal demi mengejar masa depan yang lebih baik.
Namun, tak lama setelah tiba, sebuah krisis melanda: orang tuanya di China mengalami masalah finansial yang serius. Zhang pun dihadapkan pada dua pilihan sulit: pulang ke China dan kembali ke sistem pendidikan di sana, atau tetap di Australia dan mencari cara membiayai kuliah serta hidupnya sendiri.
Ia memilih bertahan. Demi gelar Ilmu Komputer di University of Melbourne, Zhang melakoni empat pekerjaan kasar sekaligus:
Siang hari: Mencuci piring di restoran.
Malam hari: Menjadi bartender di bar.
Dini hari: Bekerja shift malam di pom bensin.
Musim panas: Mengepak lemon di pabrik.
"Saat Anda berada dalam situasi sulit untuk bertahan hidup, Anda tidak berpikir tentang burnout. Pilihannya hanya: Anda selamat atau tidak," kenangnya.
Dari Jutawan "Sampingan" Menuju Pencarian Jati Diri
Setelah lulus pada 2007, Zhang meniti karier di dunia korporat (Aviva dan perbankan). Di saat yang sama, ia membangun berbagai bisnis sampingan, mulai dari ekspor minyak zaitun dan wine hingga pengembangan real estat.
Pada usia 20-an, Zhang sebenarnya sudah menjadi jutawan. Namun, meski uang bukan lagi masalah, ia merasa belum menemukan gairah sejatinya. Titik balik terjadi saat ia berusia 30 tahun dan putrinya lahir.
"Saya menatapnya dan merasa belum melakukan apa pun yang bisa membuatnya bangga. Di saat itulah saya memutuskan untuk berhenti melakukan bisnis sampingan, pensiun dari pekerjaan penuh waktu, dan membangun sesuatu yang besar dengan benar," kata Zhang. Ia menyadari bahwa uang saja tidak membawa kebahagiaan tertinggi; ia ingin membangun sesuatu yang membuatnya bersemangat bangun setiap pagi.
Lahirnya Airwallex dari Kedai Kopi
Ide Airwallex justru muncul dari salah satu bisnis sampingannya: sebuah kedai kopi di Melbourne yang ia jalankan bersama temannya, Max Li. Saat mengimpor biji kopi dari China dan Brasil, mereka menyadari betapa mahalnya biaya transfer lintas negara melalui sistem SWIFT tradisional.
"Kami berpikir, kenapa tidak membangun sistem pembayaran yang paralel dengan SWIFT dan secara fundamental mengubah cara uang bergerak di seluruh dunia?"
Pada Desember 2015, Zhang resmi mengundurkan diri dari pekerjaannya di bank. Bersama Max Li dan teman-teman kuliahnya—Lucy Liu (yang menginvestasikan $1 juta pertama), Jacob Dai, dan Ki-lok Wong—ia mendirikan Airwallex.
Masa Depan: Target Pendapatan $10 Miliar
Setelah satu dekade bekerja 80 jam seminggu, dedikasi Zhang membuahkan hasil luar biasa. Pada akhir 2025, Airwallex mencatat:
Valuasi Perusahaan: $8 miliar (sekitar Rp125 triliun).
Pendapatan (ARR): Melampaui $1 miliar per tahun.
Kini di usia 40-an, Zhang tetap bekerja minimal 80 jam seminggu. Fokusnya sekarang adalah masa depan. "Kami rasa kami bisa menghasilkan setidaknya $10 miliar pendapatan pada tahun 2030. Itulah target kami berikutnya," pungkasnya dengan optimis.

Comments
Post a Comment