
Didirikan oleh Ritesh Agarwal pada tahun 2013, OYO (sebelumnya Oravel Stays Private Limited) telah berevolusi dari sekadar jaringan hotel menjadi pemain kunci dalam industri travel-tech global. Dengan model bisnis yang unik, OYO berhasil melakukan ekspansi cepat ke berbagai pasar, menjadikan Indonesia salah satu benteng pertahanannya yang paling penting.
Model "Manchise": Kunci Pertumbuhan Cepat OYO
OYO mengadopsi model manchise (management and franchise). Alih-alih membangun properti baru, OYO bermitra dengan pemilik hotel independen. OYO kemudian melakukan intervensi dengan tiga cara utama:
Standardisasi: Menyediakan standarisasi layanan (seperti linen bersih, Wi-Fi gratis, dan AC yang berfungsi) untuk memastikan pengalaman pelanggan yang konsisten di seluruh properti.
Teknologi: Mengintegrasikan properti mitra ke dalam platform teknologi OYO untuk manajemen harga dinamis, distribusi inventaris, dan efisiensi operasional.
Pemasaran: Menghubungkan properti dengan jutaan pelanggan melalui aplikasi dan kanal penjualan OYO.
Model ini memungkinkan OYO untuk menambah ribuan kamar dalam waktu singkat tanpa mengeluarkan modal besar untuk akuisisi aset, sebuah strategi yang mendorong pertumbuhan eksponensial.
Indonesia: Pasar Utama dan Lokomotif Ekspansi
Indonesia menjadi prioritas utama OYO di Asia Tenggara. Sejak diluncurkan pada Oktober 2018, perkembangannya sangat agresif.
| Indikator | Capaian (Hingga Akhir 2022) |
| Pertumbuhan Bisnis | 15 kali lipat (sejak awal beroperasi) |
| Jumlah Pelanggan | Menarik lebih dari 13 juta pelanggan |
| Cakupan Wilayah | Lebih dari 160 kota di seluruh Indonesia |
| Jumlah Properti | Lebih dari 3.400 properti dan 48.000 kamar |
Keberhasilan OYO di Indonesia didorong oleh fokus pada pasar budget travel dan millennials yang mencari akomodasi yang andal dengan harga terjangkau. Selain itu, OYO juga memperkuat kehadirannya di segmen premium melalui merek seperti Townhouse dan Collection O, menargetkan perjalanan bisnis dan liburan kelas atas.
Transformasi Global dan Fokus pada AI
Setelah melalui periode ekspansi masif, OYO mulai mengalihkan fokusnya ke profitabilitas dan efisiensi operasional.
Pencapaian EBITDA Positif: Pada tahun buku 2023, induk usaha OYO (Oravel Stays Ltd.) diproyeksikan mencapai EBITDA (Pendapatan Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi) positif untuk pertama kalinya. Ini menandakan transisi yang sukses dari model pertumbuhan yang didorong oleh diskon besar menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Investasi Teknologi: OYO telah banyak berinvestasi dalam AI dan data science. Teknologi ini digunakan untuk mengoptimalkan penentuan harga secara real-time (Dynamic Pricing), memprediksi permintaan, dan membantu pemilik hotel meningkatkan pendapatan per kamar (RevPAR).
PRISM: Evolusi Menuju Perusahaan Tech Sejati
Perkembangan terkini yang paling signifikan adalah perubahan identitas perusahaan induk. Pada September 2025, Oravel Stays Limited secara resmi meluncurkan nama perusahaan induk yang baru: PRISM.
Meskipun merek OYO akan tetap digunakan untuk bisnis hotel di segmen budget, PRISM akan menjadi payung korporasi yang mencerminkan ambisi perusahaan sebagai pemain teknologi yang didukung oleh data dan AI, menyatukan seluruh bisnis di sektor travel-tech dan perhotelan.
Perkembangan OYO menunjukkan bahwa dengan perpaduan teknologi yang cerdas dan model bisnis yang adaptif, perusahaan travel-tech mampu menantang dan merevolusi industri perhotelan tradisional, baik di pasar berkembang seperti Indonesia maupun di panggung global.
Comments
Post a Comment