Selama puluhan tahun, kekuasaan Arab Saudi bersumber dari kekayaan minyak yang mengalir melalui jaringan pipa, menggerakkan perekonomian global. Namun, kesadaran akan masa depan telah mendorong Kerajaan untuk menyadari bahwa era berikutnya akan digerakkan bukan oleh energi konvensional, melainkan oleh Kecerdasan Buatan (AI).
Di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), Arab Saudi kini tengah melaksanakan transformasi strategis, mengalihkan kekayaan minyaknya menjadi kekuatan dan pengaruh teknologi. Kerajaan menginvestasikan miliaran dolar dengan keyakinan bahwa komoditas ekspor utama mereka di masa depan adalah daya komputasi, bukan lagi bahan bakar.
Visi Menjadi Kekuatan AI Global Ketiga
Arab Saudi menetapkan target ambisius untuk menjadi kekuatan AI terbesar ketiga di dunia, menyusul Amerika Serikat dan Tiongkok. Untuk merealisasikan tujuan ini, Kerajaan mendirikan Humaine, sebuah entitas yang didukung oleh dana kekayaan berdaulat triliunan dolar Saudi.
Langkah konkret yang diambil adalah pembangunan "benteng data" kolosal yang berfungsi sebagai tulang punggung revolusi AI. Proyek ini mencakup pembangunan pusat data AI senilai $5 miliar di dekat Laut Merah, serta kompleks miliaran dolar lainnya yang direncanakan untuk melayani kawasan Asia dan Afrika. Humaine menargetkan pembangunan kapasitas data sebesar 6 Gigawatt (GW) pada tahun 2034, yang dipandang sebagai ledakan digital yang setara dengan penemuan ladang minyak baru.
Kemitraan Strategis dan Proyek NEOM
Untuk mempercepat dominasi teknologi, Humaine telah menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka dunia, termasuk Nvidia, AMD, Amazon Web Services (AWS), Qualcomm, Cisco, dan Blackstone. Bahkan, dilaporkan adanya negosiasi intensif untuk menyediakan daya komputasi bagi XAI milik Elon Musk.
Visi AI ini terintegrasi erat dengan proyek pembangunan terbesar Arab Saudi, NEOM, yang menelan biaya $500 miliar. NEOM, dengan kota futuristiknya The Line dan pusat industri terapung Oxagon, dirancang untuk menjadi inkubator teknologi. Di sana, perusahaan Saudi lainnya, Data Vault, akan mendirikan pusat data AI yang sepenuhnya berkelanjutan senilai $5 miliar, beroperasi menggunakan energi bersih. Humaine juga telah meluncurkan sistem operasi AI, Humaine One, yang mentransformasi interaksi digital menjadi percakapan.
Strategi Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi
Pergeseran ini didukung oleh Strategi Nasional untuk Data dan AI, yang bertujuan mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam seluruh sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, logistik, energi, hingga tata kelola pemerintahan.
Pasar AI Arab Saudi telah mencapai nilai $6,76 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan tumbuh dengan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk (CAGR) yang sangat tinggi, yaitu 43,1% antara tahun 2025 hingga 2030. Diperkirakan pada tahun 2030, kontribusi AI saja dapat mencapai puluhan miliar dolar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Kerajaan.
Arab Saudi menawarkan insentif yang sangat menarik bagi investor AI global, termasuk ketersediaan listrik murah, perizinan yang cepat, dan modal investasi yang besar. Hal ini telah menarik perhatian pimpinan perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti OpenAI dan Google.
Tantangan dan Persaingan Regional
Meskipun memiliki modal yang tak terbatas, ambisi Saudi dihadapkan pada satu tantangan krusial: perolehan chip semikonduktor AI buatan Amerika Serikat. Kontrol ketat yang diberlakukan AS terhadap ekspor semikonduktor canggih dari Nvidia dapat menghambat rencana pembangunan pusat data AI Kerajaan. Situasi ini mengharuskan Arab Saudi untuk menavigasi hubungan diplomatik yang kompleks antara kepentingan AS dan ikatan yang berkembang dengan Tiongkok.
Selain itu, kawasan Teluk kini berada dalam perlombaan senjata AI yang ketat. Uni Emirat Arab (UEA) telah lebih dulu membangun imperium AI-nya sendiri melalui G42 dan menjalin kemitraan strategis dengan OpenAI dan Oracle.
Kesimpulan
Transformasi Arab Saudi dari ladang minyak (oil fields) menuju ladang data (data fields) merupakan upaya mendefinisikan ulang identitas dan kekuatan geopolitik mereka. Jika di masa lalu dunia bergerak di atas barel, masa depan akan bergantung pada bandwidth dan komputasi awan. Pertaruhan Saudi adalah menjadikan negara yang dibangun di atas energi ini sebagai mesin penggerak utama bagi dunia digital.

Comments
Post a Comment