10 Perusahaan Terbesar di Indonesia Tahun 2024 dan Perannya dalam Ekonomi Nasional

Lanskap korporasi Indonesia didominasi oleh perpaduan antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan konglomerat swasta. Perusahaan-perusahaan raksasa ini menjadi pilar vital yang mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), menciptakan lapangan kerja, dan memfasilitasi transformasi ekonomi. Laporan ini mengidentifikasi "perusahaan terbesar" dari dua perspektif utama: Forbes Global 2000, yang menggunakan kombinasi penjualan, laba, aset, dan nilai pasar; dan Fortune Southeast Asia 500, yang mengurutkan perusahaan berdasarkan pendapatan tahunan.

Dominasi Berdasarkan Forbes Global 2000 (2024)

Forbes Global 2000 menyoroti kekuatan finansial dan valuasi pasar, dan dalam daftar ini, sektor perbankan Indonesia menunjukkan dominasi yang mencolok. Sembilan perusahaan Indonesia berhasil masuk dalam daftar ini, dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menempati peringkat tertinggi di Indonesia, yaitu peringkat ke-308 secara global. Tiga posisi teratas di Indonesia dipegang oleh bank, yaitu BRI, Bank Mandiri, dan Bank Central Asia (BCA). Keberadaan mereka di daftar ini menunjukkan skala operasional yang besar, profitabilitas yang tinggi, dan kepercayaan investor yang kuat terhadap sektor perbankan di Indonesia.

Berikut adalah 9 perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Forbes Global 2000 tahun 2024:

  1. Bank Rakyat Indonesia (BRI): Peringkat global 308, dengan pendapatan $14,9 miliar, laba $3,9 miliar, aset $125,5 miliar, dan nilai pasar $46,5 miliar. BRI adalah perusahaan BUMN yang fokus pada segmen UMKM dan merupakan bank milik pemerintah pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1895.
  2. Bank Mandiri: Peringkat global 373, dengan pendapatan $11,6 miliar, laba $3,6 miliar, aset $136,5 miliar, dan nilai pasar $38,1 miliar. Bank Mandiri dibentuk pada tahun 1998 melalui merger empat bank milik negara.
  3. Bank Central Asia (BCA): Peringkat global 457, dengan pendapatan $7,5 miliar, laba $3,3 miliar, aset $91,1 miliar, dan nilai pasar $75,3 miliar. BCA adalah bank swasta terbesar di Indonesia dan mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT Dwimuria Investama Andalan (Djarum Group).
  4. Telkom Indonesia: Peringkat global 912, dengan pendapatan $9,8 miliar, laba $1,6 miliar, aset $18,2 miliar, dan nilai pasar $18,6 miliar.
  5. Bank Negara Indonesia (BNI): Peringkat global 944, dengan pendapatan $5,4 miliar, laba $1,4 miliar, aset $67,3 miliar, dan nilai pasar $12,1 miliar.
  6. Bayan Resources: Peringkat global 1194, dengan pendapatan $3,3 miliar, laba $1,0 miliar, aset $2,9 miliar, dan nilai pasar $39,6 miliar.
  7. Chandra Asri Petrochemical: Peringkat global 1591, dengan pendapatan $2,1 miliar, laba $0,0 miliar, aset $5,4 miliar, dan nilai pasar $49,3 miliar.
  8. Amman Mineral Internasional: Peringkat global 1605, dengan pendapatan $2,0 miliar, laba $0,3 miliar, aset $9,9 miliar, dan nilai pasar $46,6 miliar.
  9. Adaro Energy: Peringkat global 1738, dengan pendapatan $6,1 miliar, laba $1,6 miliar, aset $10,5 miliar, dan nilai pasar $5,6 miliar.

Dominasi Berdasarkan Fortune Southeast Asia 500 (2024)

Sebaliknya, daftar Fortune Southeast Asia 500 berfokus pada pendapatan tahunan, yang mencerminkan skala operasional dan jangkauan pasar. Dalam daftar ini, BUMN di sektor energi dan utilitas mendominasi peringkat teratas. PT Pertamina (Persero) menduduki peringkat teratas di Indonesia dan peringkat ke-3 di seluruh Asia Tenggara, menggarisbawahi skala operasionalnya yang masif.

Berikut adalah 10 perusahaan terbesar di Indonesia berdasarkan Fortune Southeast Asia 500 tahun 2024:

  1. Pertamina: Peringkat ke-3 di Asia Tenggara dengan pendapatan $75.788 juta dan laba $4.441 juta. Pertamina adalah BUMN minyak dan gas yang mengelola seluruh rantai pasok energi nasional.
  2. Perusahaan Listrik Negara (PLN): Peringkat ke-6 di Asia Tenggara dengan pendapatan $32.013 juta dan laba $1.446 juta. PLN adalah BUMN yang mengelola seluruh aspek kelistrikan di Indonesia.
  3. Bank Rakyat Indonesia (BRI): Peringkat ke-15 di Asia Tenggara dengan pendapatan $14.917 juta dan laba $3.948 juta.
  4. Bank Mandiri: Peringkat ke-22 di Asia Tenggara dengan pendapatan $11.515 juta dan laba $3.616 juta.
  5. Telkom Indonesia: Peringkat ke-28 di Asia Tenggara dengan pendapatan $9.801 juta dan laba $1.613 juta.
  6. Gudang Garam: Peringkat ke-35 di Asia Tenggara dengan pendapatan $7.813 juta dan laba $350 juta. Gudang Garam adalah produsen rokok kretek terkemuka yang merupakan perusahaan swasta.
  7. Bank Central Asia (BCA): Peringkat ke-40 di Asia Tenggara dengan pendapatan $7.371 juta dan laba $3.195 juta.
  8. Indofood Sukses Makmur: Peringkat ke-41 di Asia Tenggara dengan pendapatan $7.337 juta dan laba $535 juta. Indofood adalah perusahaan pengolahan makanan raksasa yang dikenal dengan produk mie instan.
  9. Inalum (MIND ID): Peringkat ke-43 di Asia Tenggara dengan pendapatan $7.088 juta dan laba $1.599 juta. Inalum adalah bagian dari BUMN Holding Industri Pertambangan, MIND ID.
  10. Alfamart (Sumber Alfaria Trijaya): Peringkat ke-44 di Asia Tenggara dengan pendapatan $7.025 juta dan laba $224 juta. Alfamart adalah perusahaan ritel swasta yang mengoperasikan jaringan minimarket waralaba.
Dinamika dan Kontribusi terhadap Ekonomi Nasional

Perbandingan kedua daftar tersebut menunjukkan perbedaan penting dalam cara "kebesaran" perusahaan diukur. BUMN seperti Pertamina dan PLN menduduki peringkat teratas dalam hal pendapatan di daftar Fortune karena mereka menyediakan layanan dasar dan strategis bagi seluruh populasi dan industri. Sebaliknya, bank mendominasi daftar Forbes karena kekuatan finansial dan kapitalisasi pasar mereka.

BUMN memainkan peran ganda sebagai agen pembangunan dan kontributor fiskal utama bagi negara, dengan kontribusi signifikan dari pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan dividen. Sementara itu, konglomerat swasta mendorong dinamika pasar melalui inovasi, efisiensi operasional, dan ekspansi yang adaptif, menunjukkan daya saing yang kuat di tingkat nasional dan internasional. Strategi "gurita bisnis" yang diterapkan oleh banyak konglomerat swasta memungkinkan mereka untuk mendiversifikasi risiko dan mendominasi pasar.

Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan terbesar ini menjadi penggerak utama perekonomian Indonesia. Mereka berkontribusi signifikan terhadap PDB, menciptakan lapangan kerja, mendorong investasi, dan memfasilitasi transformasi digital. Kolaborasi antara BUMN dan sektor swasta akan terus menjadi kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan.

Buku: AI-Powered Strategic Management

Comments