The important of digital leadership capability in the disruptive era

Rencana disertasi saya adalah terkait digital leadership and business model innovation, sehingga saya banyak membaca jurnal-jurnal ilmiah terkait hal tersebut, salah satunya dari peneliti Bu Pearl Zhu dan juga senior saya di Telkom yaitu Pak Priyantono Rudito dengan bukunya "Digital Mastery".

Revolusi digital (digital revolution), karena kemajuan dalam teknologi digital seperti komputasi awan (cloud computing), data besar dan analitik (big data and analytic), broadband seluler (mobile broadband), kecerdasan buatan (artificial intelligent), dan internet of things mendorong ekonomi digital dan revolusi Industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan lama untuk mengantisipasi model bisnis (business model) baru yang ditawarkan oleh pemain baru. Kita menyaksikan banyak industri yang berisiko tinggi mengalami gangguan (disruptive).

Berbagai teknologi digital kian memainkan peran penting dalam memperkaya pengalaman konsumen (enriching customer experience), mentransformasi proses operasi (transforming operational process), dan menemukan kembali model bisnis (reinventing business model). Gabungan ketiganya menghasilkanD extraordinary value yang tak bakal bisa ditandingi oleh pemain konvensional mana pun. Extraordinary value inilah yang berpotensi mendisrupsi industri, pasar, dan pesaing.

Berbeda dengan transformasi biasa, transformasi digital menuntut perusahaan mengaplikasikan teknologi digital untuk mendongkrak kinerja bisnis dan keuangan. Jadi, transformasi digital melibatkan aplikasi cloud computing seperti yang dilakukan oleh Amazon dan Google. Atau mendayagunakan machine learning dan artificial intelligence seperti diterapkan IBM Watson, atau memanfaatkan big data analytics seperti yang dilakukan GE Predix.

Transformasi digital menuntut perusahaan mengembangkan dua kemampuan, yaitu Kapabilitas Digital (Digital Capability) dan Kapabilitas Kepemimpinan (Leadership Capability). Yang pertama menyangkut the “what” oftechnology (kemampuan membangun dan mengembangkan teknologi digital), sementara yang kedua menyangkut the "how" of the leading change (kemampuan mengarahkan dan menggerakkan perubahan).

Kajian Digital Leadership (Kepemimpinan Digital) merupakan bagian dari kajian tentang kepemimpinan berdasarkan teori eselon atas (The Upper Echelon Theory) yang dikembangkan oleh Hambrick dan Mason (1986), dimana output organisasi dipengaruhi oleh keputusan pemimpin berdasarkan interpretasi dan kognitif dari para aktor.

Sandel (2013) mendefinisikan kepemimpinan digital sebagai kapabilitas dan kapasitas yang dapat menyediakan lingkungan kreativitas dengan mengoptimalkan teknologi dan kapabilitas digital.

Pearl Zhu (2015) mendefinisikan kriteria kepemimpinan digital terdiri dari 5 karakteristik: 

  1. Thought leader, persaingan menjadi ketat dan hiper karena munculnya pesaing baru yang mengganggu bisnis incumbent. 
  2. Creative leader, teknologi digital membawa model bisnis baru dan memberikan dampak tanpa batas pada inovasi. Inovasi menjadi kunci keunggulan kompetitif, maka pemimpin digital harus memiliki kreativitas dan pola pikir inovasi yang dapat merumuskan ide masa depan menjadi kenyataan bisnis
  3. Global Visionary Leader, pemimpin digital memiliki kemampuan untuk memberikan arah dan menjadi orkestra dalam mentransformasi transformasi bisnis digital. 
  4. Inquisitive Leader, dengan ekosistem yang kompleks dan dinamis karena faktor VUCA, pemimpin digital harus memiliki kemampuan belajar dan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan pembelajaran dan kemampuan digital. 
  5. Profound Leader, pemimpin digital memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang kebijakan karena di era internet dan digital, informasi semakin terbuka dan setiap orang memiliki kemampuan untuk mengakses dan menganalisis informasi secara komprehensif, dengan menggunakan interpretasi, asumsi, dan sintesa mereka. informasi dapat memperdalam pengetahuan untuk mengambil keputusan.

Comments