Sunday, June 28, 2015

Business Model GO-JEK yang Menguntungkan Tukang Ojek


Setiap saya berangkat kantor di Jakarta, saya selalu melihat Tukang Ojek dengan jaket dan helm khas warna hijau dan hitam baik sedang mengantar penumpang maupun sedang mangkal. Pagi ini di Bandung, sehabis sholat subuh Tukang Koran Pikiran Rakyat datang mengantar koran ke rumah. Seperti biasa saya lihat headline-nya, wah ternyata membahas layanan GO-JEK.

Saya jadi penasaran untuk ingin tahu secara mendalam, saya search melalui Mbah Google dengan keyword "GO-JEK", ternyata banyak sekali ulasan tentang layanan ini. Saya pertama buka go-jek.com dan mulai explore.

GO-JEK saat ini telah bermitra dengan para pengendara Ojek berpengalaman di Jakarta, Bandung, Bali & Surabaya serta menjadi solusi dalam pengiriman barang, pesan antar makanan, berbelanja dan berpergian di tengah kemacetan.

Tukang Ojek yang tergabung dalam GO-JEK sedang mengantar penumpang

Sistem kerjanya cukup simpel, dengan menggunakan GO-JEK application berbasis iOS maupun Android, kita dapat memesan GO-JEK Driver (Tukang Ojek) untuk mengakses semua layanan. Masukan alamat kita untuk mengetahui biaya penggunaan layanan. Gunakan layanan ‘Use my location’ untuk mengarahkan Driver ke tempat kita berada. Setelah kita mengkonfirmasi pesanan, dengan teknologi location-based akan mencarikan Driver yang posisinya paling dekat dengan kita. Setelah seorang Driver ditugaskan, kita dapat melihat foto Driver, mengirimkan sms dan juga meneleponnya.

Driver GO-JEK mengantar pesanan

Keunggulan aplikasi GO-JEK antara lain dapat memproses pesanan lebih cepat, bisa live track Driver dan membayar dengan GO-JEK Credit. GO-JEK Credit adalah metode pembayaran GO-JEK yang dibuat cashless dan dapat digunakan untuk membayar semua layanan. Jika kita memiliki GO-JEK Credit, sistem akan secara otomatis mendebit Credit untuk membayar layanan yang digunakan. Untuk periksa berapa banyak Credit yang kita miliki, klik MY WALLET di aplikasi GO-JEK. Apabila kita tidak memiliki cukup Credit untuk membayar layanan, sisanya tidak dapat dibayarkan dengan cash. Segeralah lakukan Top Up atau bayar cash. GO-JEK Credit tidak dapat diuangkan.

Dari website go-jek.com, saya tidak menemukan informasi revenue stream bagi pengelola GO-JEK, apakah dari iklan atau dari mitra restaurant atau lainnya. Dari Pikiran Rakyat yang saya baca, untuk saat ini business model yang digunakan adalah revenue sharing, dari seluruh ongkos yang dibayarkan oleh penumpang, pengelola GO-JEK memungut 20 persen dan sisanya untuk Driver (Tukang Ojek).

Driver GO-JEK membelikan barang kebutuhan pemesan

Dari informasi di Pikiran Rakyat, rata-rata Tukang Ojek yang tergabung dalam GO-JEK dalam sebulan akan mendapatkan penghasilan minimal Rp. 2,5 juta setelah dikurangi 20% untuk pengelola dan cicilan smartphone sebesar Rp. 20 ribu seminggu. Biaya pulsa untuk telpon dan koneksi data internet ditanggung sendiri oleh Tukang Ojek.

Tukang Ojek sangat terbantu dengan layanan GO-JEK ini, selain penghasilan yang meningkat drastis, tidak perlu rebutan penumpang dan waktu kerja yang flexible. Alhamdulillah. [photos are credited by go-jek.com]






2 comments:

  1. wah diSurabaya blm ada ini,, bentar lg merambah Sby nih, semoga sudah ada putra daerah yg berinisiatif biar pemerataan rejeki hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Surabaya, sudah masuk target GO-JEK, ditunggu Mbak :-)

      Delete

Contact Form

Name

Email *

Message *